Cakrawala Jagad Semesta

Subuh datang, dengan lantang mu'adziim memanggil setiap jiwa muslim untuk menegakkan sholat subuh. Tendangan keras dari dalam rahim membuat sang bunda terduduk dari tidur pulas semalam tanpa buang air kecil berkali-kali seperti biasanya.
Empat hari yang lalu jiwa lelah bunda menyaksikan WTC di Amerika roboh menandai perjuangan panjang para mujahiddin yang berusaha memerangi Amerika melalui perang modern. Mengapa perang tidak bisa memilih siapa yang pantas dibunuh dan siapa yang pantas dilindungi?
Tapi hari itu, tendangan keras dari dalam rahim menjadi tanda perjuangan hidup dan mati pertama ketika sang ananda menunjukkan tanda-tanda ingin menyaksikan dunia. Nak, kami sungguh egois meminta-minta kepada Allah agar engkau dilahirkan, padahal sekarang kami senantiasa meninggalkanmu di rumah. Nak, kami sungguh egois meminta-minta kesempurnaan hidup kami dengan kelahiranmu, padahal sekarang kami menegur, memarahi dan melukai perasaanmu.
Lihatlah ... betapa engkau menjerit ketika lahir ke dunia ini ... tidak sudi menanggung dosa yang harus dihadapi didunia ini ... Tapi Allah memberikan takdirnya kepada kita semua ... Takdirmu Nak, Takdir kami ... Betapa kami bersyukur menyaksikan tubuh mungilmu dalam pelukan kami.
Tubuh mungil itulah yang semakin hari semakin panjang, mulur sesuai dengan umur zaman. Mulut kecil yang tadinya tak mampu berkata-kata kecuali menangis, kini sudah mampu menasehati bunda papi dan adek ...
Kamulah pria perkasa berhati lembut, tak mampu mengungkapkan kekecewaan. Pria perkasa berhati lembut itu seperti Rasulullah ... maka jadikanlah dia teladanmu. Karena air mata Rasulullah selalu mengalir mengiringi doa-doa lembut yang dipanjatkan bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk ummatnya. Kami berdoa agar kelak engkau menjadi penerus Rasul, menyeru ummat kepada kebaikan, Universitas Al-Azhar di Kairo adalah tempat belajarmu kelak ... Insyaallah
Nak, manusia yang paling mulia dan paling bahagia adalah yang mampu menghafal Al-Qur'an dan ikhlas mengikuti ajaranNya yang dituangkan didalam Al-Qur'an tersebut. Itulah buku yang paling sempurna karena dia tidak dibuat oleh manusia. Ingatlah Nak, tujuan hidupmu adalah kembali kepada pemilikmu dalam keadaan yang dimuliakanNYA.

1 Comments:
Bunda, Jagad, sama Ibu ( 17 September ) satu kloter juga....
Post a Comment
<< Home