Sekolah itu terletak di tengah kampung Pondok Sukmajaya, siang itu, selesai belajar anak-anak berkumpul di tengah lapangan. Disana sudah ada panggung, drum, speaker dan berbagai asesori lainnya. Anak-anak berseragam pramuka, turun dari kelas mereka membawa bendera, spanduk, ikat kepala dan poster
Anak-anak kami, barangkali baru mendengar dari televisi. Mereka belum mengerti, tapi ini saatnya memberikan pelajaran kepada mereka. Mereka hidup di dunia, sebagai muslim mereka bersaudara satu dengan yang lainnya, darah muslim itu lebih utama, itulah pesan Rasulullah SAW
Siapa yang tidak tergugah, dunia menangis menyaksikan hancur lantaknya Palestina. Jumlah korban bergerak bagaikan argo taksi. Menyedihkan ... sungguh menyedihkan, hampir separuh dari mereka adalah anak-anak. Hidup bertahun-tahun dalam tekanan musuh yang kejahatannya sudah diberitakan oleh Allah dalam Al-Qur'an, anak-anak itu tentu sudah bisa menduga gambaran hidup yang harus mereka tempuh dalam keseharian mereka.
Barangkali suara takbir dan teriakan anak-anak kami yang pecah ditengah siang itu, memberikan dukungan kepada Palestina hanya bergema hingga ujung kampung, tapi kami yakin, anak-anak kami mendapatkan satu pelajaran berharga hari itu. Betapa kita hidup harus berempati dengan sesama. Bersaudara dan ikut merasakan penderitaan orang lain, itulah point terpenting yang harus mereka tanamkan didalam diri mereka. Mereka anak-anak muslim, dan anak Indonesia, yang peduli dan penuh dengan semangat juang. Semoga kelak, bila ada diantara mereka ada yang menjadi pemimpin di negeri ini, mereka tetap membawa tekad melawan tirani Zionisme dan mengetahui dengan jelas dan mana yang haq dan yang bathil.