Bye Jacko ...

Jagad berkomentar sambil mengelus wajahku yang tertegun menatap televisi dan lagu “one day in your love …” mengalun sempurna dari televisi. Mataku berkaca-kaca, hampir selama aku mengenal Michael Jackson aku tidak pernah menjadi pengagumnya, hanya sekedar tahu dan menikmati beberapa lagunya.
“Bunda nangis?” wajah dan mata Jagad melotot tepat di depan mataku …
“Hmmm … sekarang abang tau kalau Jacko itu bukan pemain bola kan? Dia penyanyi, diberi gelar King of pop” … “yap …“ sahut Jagad “bukan King of Donat ya … he he he mirip donat jeko …” katanya lagi ..
Terselip rasa kasihan dalam hati ini, mengikuti rententan perjalanan hidupnya. Bagaimanapun dialah Masterpiece yang hidup dalam masaku, ketika aku hanya mendengar nama Elvis Presley, Marilyn Monroe, tanpa diminta aku disodori jalan hidup yang dilalui oleh MJ. Mengikuti setiap kisah yang dramatis, hingga berakhir di tahun 2009 ini.
Pada akhirnya, peristiwa kematian hanyalah perhentian dari sekian panjang kelelahan yang ditanggung selama hidup. Sayang beribu sayang, dia tidak menemukan kenikmatan iman seperti yang kami rasakan, sehingga dramatisnya setiap peristiwa memperlihatkan sosok yang bingung dan lelah menentukan identitas diri. Menjadi anak-anak yang populer, tapi menderita, menjadi orang kulit hitam yang ingin sekali menjadi putih, menjadi pria yang punya rasa sedalam wanita. Rasa kasihan itu membekas, karena dalam tubuhnya yang lelah berganti identitas itu dia menyimpan belas kasih yang begitu besar kepada sesama manusia, kepada anak-anak dan kepada dunia.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home