Budhinova Family

20 Mei 2000, dua manusia bernama Budhinova Restu Nursai dan Wiendha Winstar menikah di rumbai pekanbaru. Allah kemudian menitipkan dua anak dari rahim pasangan tersebut bernama Cakrawala Jagad Semesta dan Nuansa Timur Langit. Seindah hadirnya mentari pagi, seindah teriknya siang hari, seindah rembulan yang menyinari malam kami meniti hari demi mengabdi pada Sang pemberi hidup ... hingga suatu waktu nanti ketika ALLAH memisahkan kami ...

Friday, October 10, 2014

SUTRADARA YANG SOLEH



Ketika memutuskan untuk memilih pria ini menjadi suami hampir 8 tahun yang lalu saya tidak pernah menjadikan soleh sebagai criteria utama. Saya hanya mencari pria muslim yang menyatakan sanggup untuk menjadi imam dalam keluarga kami. Wajah yang lumayan menarik, tekhnik muncul (begitu istilahnya untuk menyebut cara menarik perhatian orang) yang menawan, dan keunikan personifikasinya menjadikan dia pria yang perlu diperhatikan kehadirannya. Setidaknya begitulah pendapat saya 8 tahun yang lalu ketika saya harus mumutuskan untuk memilih pria yang ingin saya nikahi. Jadilah kami menikah tanpa banyak basa-basi. 

Manusia memang dibentuk oleh lingkungannya, latar belakang pendidikan seni yang digeluti suami saya memberi dia rasa yang begitu besar untuk dia olah bersama crew film-nya. Sedangkan untuk mem-back up pekerjaan suami yang base on project itu, saya bekerja dikantor, lumayanlah ada penghasilan tetap setiap bulannya. Menyatukan dua karakter yang berbeda di dalam pernikahan itu memang sulit, saya baru menyadari betapa tidak mudahnya bagi saya mengenali karakter pria ini. Naik dan turunnya hubungan kami dalam pernikahan diiringi pertengkaran demi pertengkaran yang mengaduk-aduk perasaan. Yaa…perasaan, dia adalah pria yang berjalan dengan perasaannya, dan sedikit logika. Sedangkan saya adalah wanita praktis yang suka berpikir logis. Mengapa jadi terbalik? Tetapi begitulah perjodohan, waktu demi waktu kami saling menyesuaikan diri, dan kondisi ini ternyata mendewasakan kami. 


Seiring dengan kelahiran dua buah hati. Putra kami Jagad, dan Putri Kami Langit. Pada setiap peristiwa kelahiran, saya merasa terlahir kembali. Menjelang kelahiran putri kami, saya mengikuti sebuah training yang luar biasa. Training yang telah mengantarkan saya pada proses hijrah, ketika saya diingatkan kembali pada fithrah dan kewajiban utama saya sebagai khalifah di muka bumi ini. Bukan hanya emosi, tetapi semangat spiritual saya bangkit. Melalui training ini dalam usia kehamilan 7 bulan, tiba-tiba saya merasa asing pada diri sendiri, merasa asing kepada suami dan keluarga. Kekhawatiran yang selama ini menemani diri, terombang-ambing dalam keraguan akan masa depan, hilang sudah. Naluri saya mengantarkan sebuah kesadaran bahwa saya memiliki Sesuatu yang tidak akan pernah hilang dari genggaman, Sesuatu yang mendengarkan ketika saya meminta, Sesuatu yang menguatkan ketika saya lemah. Maka tumpahlah airmata cinta selama berhari-hari, mengevaluasi diri dan cara hidup. Bersujud dan menghabiskan airmata di atas sajadah, seolah-olah saya baru menemukanNya. Cinta itu kini terfokus hanya pada satu sumber, suami, keluarga dan anak ternyata hanyalah perantara cinta dimana semuanya akan bermuara pada satu perasaan cinta kepadaNya. 


Seiring dengan tekad hijrah itu, saya mulai menyelami ilmu agama ini satu demi satu. Setiap ada kesempatan menambah pengetahuan saya pergunakan untuk itu, dan semakin saya mengenal semakin hati saya terasa nikmat. Setiap ketentuannya coba saya tepati, salah satunya menepati cara berpakaian, meskipun selama ini sudah berjilbab, tapi kini jilbab itu saya turunkan panjang menutupi dada, bagitu pula panjang bajunya saya turunkan hingga bawah lutut. Anehnya, saya yang selama ini merasa berpakaian seperti itu mungkin akan sulit, apalagi saya harus naik turun kereta untuk sampai di kantor, ternyata malah menemukan banyak kemudahan dan kenyamanan. Sunnah-sunnah yang diajarkan coba saya penuhi, dan tentu saja lingkungan bereaksi terhadap diri saya, tapi coba tebak, siapa yang paling merasa asing pada diri saya? Sang Arjuna, yang tidak sanggup melepaskan diri dari rokok dan kopi, yang masih terpontang panting mengejar sholat 5 waktu. Bukan hanya dia yang banyak berkomentar mengenai perubahan saya, tapi saya juga merasa asing padanya. Kini, setiap kali saya mengamati lingkungan, saya sering terpesona pada wajah soleh wanita ataupun pria yang saya temui. Hal itu terus menerus terjadi hingga saya sadar bahwa saya tidak berhak mengamat-amati wajah setiap orang, terutama pria. Saya membatasi diri sendiri, pembatasan ini tiba-tiba menyemburatkan kerinduan saya pada sang Suami. Betapa rindunya saya menemukan guratan soleh pada wajahnya. Betapa rindunya saya menemukan garis-garis kesabaran pada wajahnya. Yang rasanya akan sangat sulit saya temukan pada Arjuna saya. 


Dialah pria yang memiliki lompatan adrenalin tercepat yang pernah saya temui, tergesa-gesa dan suka mendesak. Kami hampir tidak pernah satu suara bila di jalan raya, pada saat macet ketika orang berusaha menghibur diri, suami saya biasanya melampiaskan kesalnya pada klakson mobil. Hidup yang lelah, tekanan yang besar dan emosi yang meledak-ledak. Pada sisi yang lain ketika perasaannya sedang nyaman dan tentram, luapan perasaan senang itu menyentuh saya dan anak-anak dengan sepenuh cintanya. Saya amat-amati wajahnya yang lelah tertidur setelah shooting. Suara yang serak, jam biologis yang terbalik, ketika umumnya kami sedang terlelap dia sibuk dengan teriakan dan putaran waktu kerjanya. Ketika kita bangun, dia baru membaringkan diri untuk beristirahat sejenak. 


Betapa inginnya saya menemukan kepasrahan yang dalam pada garis wajahnya. Allah ternyata mengerti kerinduan saya. Meskipun tanpa rencana, tahun 2007 kami mendapatkan rezeki yang bisa mengantarkan kami Umroh, maka kami memilih Ramadhan tahun itu. Kami berdua bahagia, meskipun pekerjaannya sulit ditinggalkan, tapi hatinya merasa dia harus memilih Umroh, dan dia rela melepas pekerjaannya kepada orang lain, sungguh diluar perkiraan saya. Perjalanan 9 jam itu kami lalui dengan berpuasa. Tidak merokok selama di penerbangan dan meskipun waktunya berbuka biasanya diawali dengan membakar sebatang rokok, tapi kali ini dengan tabah suami saya menahan dirinya. Kami memasuki Madinah terlebih dahulu dan di Madinah kami lalui dengan berbagai ritual ditempat terpisah, sholat di Nabawi dan Quba serta Rhaudah, saya tidak sempat mengamati suami saya. Setelah melewati Miqat di bir Ali, menjelang memasuki Makkah, saya melihat suami saya terdiam dan menunggu-nunggu waktunya untuk melihat ka’bah. Saya juga menunggu, dan semua orang di dalam bis memang sudah tidak sabar, meskipun ini mungkin bukan perjalanan umroh pertama mereka, tapi semua merasakan kerinduan seperti pulang ke kampung halaman. 


Kami memulai umroh setelah berbuka, Makkah hadir dihadapan kami, Berlipat rasa bergemuruh di dalam dada. Lautan manusia tak sebanding dengan Haji, memberi kami peluang untuk thawaf dan sa’I dengan lebih leluasa. Tapi pembimbing kami berkomentar bahwa awal ramadhan itu sangat ramai, dan Alhamdulillah saya dan suami tidak merasakan kesulitan yang berarti. Baru kali ini saya melihat suami saya begitu tabah mengikuti ritual yang diharuskan, tanpa banyak komentar, tanpa banyak keluhan dia libatkan segenap jiwanya. Saya tertinggal dibelakangnya ketika melewati dua tiang berlampu hijau, dia berlari-lari kecil, saya memperhatikan tubuhnya dari belakang, tiba-tiba perasaan cinta menyelusup ke dalam hati saya. 


Betapa dia bersungguh-sungguh memperlihatkan pengabdiannya kepada Allah, betapa saya merasa saya begitu bersyukur memilikinya. Setelah beristirahat sejenak, malam itu kami memutuskan akan umroh lagi dan berangkat menuju Miqat terdekat. Dalam keadaan siap umroh itu suami saya sholat di penginapan dengan pakaian ihramnya. Baru sekali itu saya merasa menemukannya dengan garis wajah yang sangat soleh, wajah yang sangat tenang dan ikhlas. Hati saya tergugah memperhatikan kain putih ihramnya, apa yang terjadi pada saya bila suatu waktu nanti saya harus menyaksikan dia dibungkus dengan kain putih serupa dengan tangan bersedekap dan mata terpejam ikhlas? Perasaan saya bercampur aduk, saya ingin wajah sholeh itu tetap menempel disana selamanya. Saya ingin raut muka yang tenang itu tetap tergambar disana selamanya, dan saya merasa rindu menatap wajah itu terus menerus. Kerinduan seperti apa ini? Saya belum pernah merasakan kenikmatan rindu yang seperti ini, toh orangnya ada di depan saya, tapi rindu itu berdebam-debam di dalam hati, dan seolah-olah ada yang berbisik “perasaan rindu kepadaMU kah ya Allah?” 


Alhamdulillah, kami berdua mengalami metamorfosa, meskipun tertatih-tatih suami saya sekarang memberikan perhatian yang sangat banyak pada jati dirinya sebagai Khalifah Allah. Bekerja bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk tujuan yang lebih mulia. Kami saling mengingatkan ketika berjauhan. Kini setiap azan dia menghentikan pengambilan gambarnya, setiap ada kesempatan dia berusaha mengajak dan mengingatkan ibadah kepada crew-nya. Yang lebih menyenangkan hati saya sisa puasanya tidak bolong satu haripun dan hal ini belum pernah dia alami sebelumnya, dia selalu beralasan beratnya pekerjaan. Seperti biasa, tak satupun crew-nya yang berpuasa, tapi kali ini dia malah berinisiatif untuk memberi hadiah kepada crew-nya yang tuntas berpuasa hingga saatnya berbuka, meskipun hanya satu hari saja.


Saya memintanya beralih kepada film-film yang lebih bermanfaat bagi ummat, tapi saya sadar hal itu tentu sulit, dia sutradara yang masih bergantung banyak pada permintaan rumah produksi. Tapi usaha harus tetap dilakukan, saya mengajaknya bercita-cita untuk menjadi besar dan bebas berkarya dengan caranya sendiri. Jauh didalam hati saya berharap, Allah berkenan memberikan ke soleh-an pada Sutradara tercinta ini, dan saya ingin sekali kelak anak saya mengenangnya sebagai seorang Sutradara yang Sholeh. 


Tulisan ini dibuat 19 Mei 2008, beberapa bulan setelah umroh dan beberapa bulan sebelum Haji

0 Comments:

Post a Comment

<< Home