Budhinova Family

20 Mei 2000, dua manusia bernama Budhinova Restu Nursai dan Wiendha Winstar menikah di rumbai pekanbaru. Allah kemudian menitipkan dua anak dari rahim pasangan tersebut bernama Cakrawala Jagad Semesta dan Nuansa Timur Langit. Seindah hadirnya mentari pagi, seindah teriknya siang hari, seindah rembulan yang menyinari malam kami meniti hari demi mengabdi pada Sang pemberi hidup ... hingga suatu waktu nanti ketika ALLAH memisahkan kami ...

Tuesday, November 25, 2014

Rasa ku




Hujan mengguyur Jakarta,
Hatiku basah, wajahmu tergambar jelas
Dalam debaran kekhawatiranku akan usaha
Mataku basah, karena kita takkan pernah bebas

Membebaskan hati dari rasa cinta yang mendera
Aku takut cintaku padamu melebihi cintaku padaNya
Aku berbisik, pada Nya
Tak ada yang melebihi cinta
Selain cinta hanya padaNya

Tapi Dia tau aku telah berdusta
Bagaimana mengatakan cinta
Bila tak ada ikhlas disana
Aku menrindukan kesembuhan itu menjadi nyata

Meskipun beribu kata dalam doa
Aku ikhlas dan semoga dihapus Dosa
Tapi tetap saja
Melihatmu menapak dengan bersahaja
Adalah rindu yang tak terkira

Tertatih langkahmu
Pucat wajahmu
Gagu kata-katamu
Dan aku merasa hanya aku yang memahamimu

Ingin menemani dirimu
Kemanapun langkahmu
Tapi langkahku tertahan disini
Aku linu sendiri

Biarlah Allah berkehendak
Karena seluruhnya telah tersurat
Biarlah Allah berkehendak
Karena aku hanya mampu mengharap




Friday, October 10, 2014

SUTRADARA YANG SOLEH



Ketika memutuskan untuk memilih pria ini menjadi suami hampir 8 tahun yang lalu saya tidak pernah menjadikan soleh sebagai criteria utama. Saya hanya mencari pria muslim yang menyatakan sanggup untuk menjadi imam dalam keluarga kami. Wajah yang lumayan menarik, tekhnik muncul (begitu istilahnya untuk menyebut cara menarik perhatian orang) yang menawan, dan keunikan personifikasinya menjadikan dia pria yang perlu diperhatikan kehadirannya. Setidaknya begitulah pendapat saya 8 tahun yang lalu ketika saya harus mumutuskan untuk memilih pria yang ingin saya nikahi. Jadilah kami menikah tanpa banyak basa-basi. 

Manusia memang dibentuk oleh lingkungannya, latar belakang pendidikan seni yang digeluti suami saya memberi dia rasa yang begitu besar untuk dia olah bersama crew film-nya. Sedangkan untuk mem-back up pekerjaan suami yang base on project itu, saya bekerja dikantor, lumayanlah ada penghasilan tetap setiap bulannya. Menyatukan dua karakter yang berbeda di dalam pernikahan itu memang sulit, saya baru menyadari betapa tidak mudahnya bagi saya mengenali karakter pria ini. Naik dan turunnya hubungan kami dalam pernikahan diiringi pertengkaran demi pertengkaran yang mengaduk-aduk perasaan. Yaa…perasaan, dia adalah pria yang berjalan dengan perasaannya, dan sedikit logika. Sedangkan saya adalah wanita praktis yang suka berpikir logis. Mengapa jadi terbalik? Tetapi begitulah perjodohan, waktu demi waktu kami saling menyesuaikan diri, dan kondisi ini ternyata mendewasakan kami. 


Seiring dengan kelahiran dua buah hati. Putra kami Jagad, dan Putri Kami Langit. Pada setiap peristiwa kelahiran, saya merasa terlahir kembali. Menjelang kelahiran putri kami, saya mengikuti sebuah training yang luar biasa. Training yang telah mengantarkan saya pada proses hijrah, ketika saya diingatkan kembali pada fithrah dan kewajiban utama saya sebagai khalifah di muka bumi ini. Bukan hanya emosi, tetapi semangat spiritual saya bangkit. Melalui training ini dalam usia kehamilan 7 bulan, tiba-tiba saya merasa asing pada diri sendiri, merasa asing kepada suami dan keluarga. Kekhawatiran yang selama ini menemani diri, terombang-ambing dalam keraguan akan masa depan, hilang sudah. Naluri saya mengantarkan sebuah kesadaran bahwa saya memiliki Sesuatu yang tidak akan pernah hilang dari genggaman, Sesuatu yang mendengarkan ketika saya meminta, Sesuatu yang menguatkan ketika saya lemah. Maka tumpahlah airmata cinta selama berhari-hari, mengevaluasi diri dan cara hidup. Bersujud dan menghabiskan airmata di atas sajadah, seolah-olah saya baru menemukanNya. Cinta itu kini terfokus hanya pada satu sumber, suami, keluarga dan anak ternyata hanyalah perantara cinta dimana semuanya akan bermuara pada satu perasaan cinta kepadaNya. 


Seiring dengan tekad hijrah itu, saya mulai menyelami ilmu agama ini satu demi satu. Setiap ada kesempatan menambah pengetahuan saya pergunakan untuk itu, dan semakin saya mengenal semakin hati saya terasa nikmat. Setiap ketentuannya coba saya tepati, salah satunya menepati cara berpakaian, meskipun selama ini sudah berjilbab, tapi kini jilbab itu saya turunkan panjang menutupi dada, bagitu pula panjang bajunya saya turunkan hingga bawah lutut. Anehnya, saya yang selama ini merasa berpakaian seperti itu mungkin akan sulit, apalagi saya harus naik turun kereta untuk sampai di kantor, ternyata malah menemukan banyak kemudahan dan kenyamanan. Sunnah-sunnah yang diajarkan coba saya penuhi, dan tentu saja lingkungan bereaksi terhadap diri saya, tapi coba tebak, siapa yang paling merasa asing pada diri saya? Sang Arjuna, yang tidak sanggup melepaskan diri dari rokok dan kopi, yang masih terpontang panting mengejar sholat 5 waktu. Bukan hanya dia yang banyak berkomentar mengenai perubahan saya, tapi saya juga merasa asing padanya. Kini, setiap kali saya mengamati lingkungan, saya sering terpesona pada wajah soleh wanita ataupun pria yang saya temui. Hal itu terus menerus terjadi hingga saya sadar bahwa saya tidak berhak mengamat-amati wajah setiap orang, terutama pria. Saya membatasi diri sendiri, pembatasan ini tiba-tiba menyemburatkan kerinduan saya pada sang Suami. Betapa rindunya saya menemukan guratan soleh pada wajahnya. Betapa rindunya saya menemukan garis-garis kesabaran pada wajahnya. Yang rasanya akan sangat sulit saya temukan pada Arjuna saya. 


Dialah pria yang memiliki lompatan adrenalin tercepat yang pernah saya temui, tergesa-gesa dan suka mendesak. Kami hampir tidak pernah satu suara bila di jalan raya, pada saat macet ketika orang berusaha menghibur diri, suami saya biasanya melampiaskan kesalnya pada klakson mobil. Hidup yang lelah, tekanan yang besar dan emosi yang meledak-ledak. Pada sisi yang lain ketika perasaannya sedang nyaman dan tentram, luapan perasaan senang itu menyentuh saya dan anak-anak dengan sepenuh cintanya. Saya amat-amati wajahnya yang lelah tertidur setelah shooting. Suara yang serak, jam biologis yang terbalik, ketika umumnya kami sedang terlelap dia sibuk dengan teriakan dan putaran waktu kerjanya. Ketika kita bangun, dia baru membaringkan diri untuk beristirahat sejenak. 


Betapa inginnya saya menemukan kepasrahan yang dalam pada garis wajahnya. Allah ternyata mengerti kerinduan saya. Meskipun tanpa rencana, tahun 2007 kami mendapatkan rezeki yang bisa mengantarkan kami Umroh, maka kami memilih Ramadhan tahun itu. Kami berdua bahagia, meskipun pekerjaannya sulit ditinggalkan, tapi hatinya merasa dia harus memilih Umroh, dan dia rela melepas pekerjaannya kepada orang lain, sungguh diluar perkiraan saya. Perjalanan 9 jam itu kami lalui dengan berpuasa. Tidak merokok selama di penerbangan dan meskipun waktunya berbuka biasanya diawali dengan membakar sebatang rokok, tapi kali ini dengan tabah suami saya menahan dirinya. Kami memasuki Madinah terlebih dahulu dan di Madinah kami lalui dengan berbagai ritual ditempat terpisah, sholat di Nabawi dan Quba serta Rhaudah, saya tidak sempat mengamati suami saya. Setelah melewati Miqat di bir Ali, menjelang memasuki Makkah, saya melihat suami saya terdiam dan menunggu-nunggu waktunya untuk melihat ka’bah. Saya juga menunggu, dan semua orang di dalam bis memang sudah tidak sabar, meskipun ini mungkin bukan perjalanan umroh pertama mereka, tapi semua merasakan kerinduan seperti pulang ke kampung halaman. 


Kami memulai umroh setelah berbuka, Makkah hadir dihadapan kami, Berlipat rasa bergemuruh di dalam dada. Lautan manusia tak sebanding dengan Haji, memberi kami peluang untuk thawaf dan sa’I dengan lebih leluasa. Tapi pembimbing kami berkomentar bahwa awal ramadhan itu sangat ramai, dan Alhamdulillah saya dan suami tidak merasakan kesulitan yang berarti. Baru kali ini saya melihat suami saya begitu tabah mengikuti ritual yang diharuskan, tanpa banyak komentar, tanpa banyak keluhan dia libatkan segenap jiwanya. Saya tertinggal dibelakangnya ketika melewati dua tiang berlampu hijau, dia berlari-lari kecil, saya memperhatikan tubuhnya dari belakang, tiba-tiba perasaan cinta menyelusup ke dalam hati saya. 


Betapa dia bersungguh-sungguh memperlihatkan pengabdiannya kepada Allah, betapa saya merasa saya begitu bersyukur memilikinya. Setelah beristirahat sejenak, malam itu kami memutuskan akan umroh lagi dan berangkat menuju Miqat terdekat. Dalam keadaan siap umroh itu suami saya sholat di penginapan dengan pakaian ihramnya. Baru sekali itu saya merasa menemukannya dengan garis wajah yang sangat soleh, wajah yang sangat tenang dan ikhlas. Hati saya tergugah memperhatikan kain putih ihramnya, apa yang terjadi pada saya bila suatu waktu nanti saya harus menyaksikan dia dibungkus dengan kain putih serupa dengan tangan bersedekap dan mata terpejam ikhlas? Perasaan saya bercampur aduk, saya ingin wajah sholeh itu tetap menempel disana selamanya. Saya ingin raut muka yang tenang itu tetap tergambar disana selamanya, dan saya merasa rindu menatap wajah itu terus menerus. Kerinduan seperti apa ini? Saya belum pernah merasakan kenikmatan rindu yang seperti ini, toh orangnya ada di depan saya, tapi rindu itu berdebam-debam di dalam hati, dan seolah-olah ada yang berbisik “perasaan rindu kepadaMU kah ya Allah?” 


Alhamdulillah, kami berdua mengalami metamorfosa, meskipun tertatih-tatih suami saya sekarang memberikan perhatian yang sangat banyak pada jati dirinya sebagai Khalifah Allah. Bekerja bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk tujuan yang lebih mulia. Kami saling mengingatkan ketika berjauhan. Kini setiap azan dia menghentikan pengambilan gambarnya, setiap ada kesempatan dia berusaha mengajak dan mengingatkan ibadah kepada crew-nya. Yang lebih menyenangkan hati saya sisa puasanya tidak bolong satu haripun dan hal ini belum pernah dia alami sebelumnya, dia selalu beralasan beratnya pekerjaan. Seperti biasa, tak satupun crew-nya yang berpuasa, tapi kali ini dia malah berinisiatif untuk memberi hadiah kepada crew-nya yang tuntas berpuasa hingga saatnya berbuka, meskipun hanya satu hari saja.


Saya memintanya beralih kepada film-film yang lebih bermanfaat bagi ummat, tapi saya sadar hal itu tentu sulit, dia sutradara yang masih bergantung banyak pada permintaan rumah produksi. Tapi usaha harus tetap dilakukan, saya mengajaknya bercita-cita untuk menjadi besar dan bebas berkarya dengan caranya sendiri. Jauh didalam hati saya berharap, Allah berkenan memberikan ke soleh-an pada Sutradara tercinta ini, dan saya ingin sekali kelak anak saya mengenangnya sebagai seorang Sutradara yang Sholeh. 


Tulisan ini dibuat 19 Mei 2008, beberapa bulan setelah umroh dan beberapa bulan sebelum Haji

Friday, October 03, 2014

Bersama selalu



Ingin sekali ...
Hari-hariku berlari disampingmu
Ingin sekali ...
Setiap saatku berada disana bersamamu

Tapi dirimu khawatir
Bagaimana urusan dunia ini bisa begitu menakutkan bagimu
Berkali-kali kuajak untuk berpikir tentang akhirat
Tapi tetap saja, kecemasan terbaca dalam matamu

Aku tak akan berhenti
Bila dirimu masih khawatirkan urusan riski
Aku akan tetap berangkat dari rumah
Bila dirimu masih berpikir bahwa semua datang dari perusahaan ini

Sehat lah sayang ...
Banyak cara untuk sehat
Salah satunya dengan sedekah
yang lainnya dengan Doa

Penyakit itu dari Allah,
dan Hanya Allah yang akan menyembuhkan
Aku hanya ingin mendampingimu
Menjadi sahabat setiamu

Jauh seperti ini
Risau jiwaku membayangkan dirimu
Khawatir sesuatu terjadi
Sementara aku tak berada disitu

Padahal Allah lebih tau apa yang telah digariskan
Padahal Allah telah menetapkan apa yang telah ditetapkan

Satu rahasia hati dan kegelisahan jiwaku
Bagaimana bila ternyata
Aku dipanggil mendahului dirimu
Bagaimana aku meninggalkanmu yang telah menggantungkan pengobatan pada perusahaan ini?
Sesuatu tentang kita dan anak-anak kita
Sesuatu yang harus kita bangun bersama
Ketika kita berdua tiada, anak-anak tetap memilikinya
Ayo kita bangun kerajaan kita
Jangan khawatirkan penyakit,
Karena usia bukan ditutup semata-mata karena penyakit saja ...



Wednesday, August 27, 2014

Doaku Untukmu Sayang



Aku katakan berkali-kali
Umur bukan penyakit yang membatasi
Masih ada matahari
Dan kita masih ada disini

Doaku selalu :

Ya Allah ...
Ampuni seluruh dosanya, dengan keikhlasannya menerima cobaanMu,
Biarkan dia bersama kami dengan seluruh keadaan yang harus dia terima
Kami pun ikhlas menerima setiap hal yang dilakukannya
Bahkan bagi kami tak ada rasa berat sedikitpun dalam melayaninya

Apapun ketetapanMu atasnya dan atas kami ya Allah ...
Tolong beri kami kesempatan untuk mengabdi kepadaMU melalui pengabdian kami kepadanya
Disini seorang istri dan tiga orang bocah kecil-kecil mengangkat tangan kami
Memohonkan kebaikanMU untuk memberinya umur bagaimanapun keadaannya

Dan bila kelak Ya Allah ...
Ketika kami harus terpisah pisah atas kehendakMU
Pada waktunya nanti ...
Di kehidupan kami selanjutnya izinkan kami bersama
Menyatu dalam satu keluarga
Ditempat tertinggi dan termulia
Yang kau janjikan kepada manusia
Dimana Rasulullah berada

Saat itu aku ingin katakan kepadanya
Inilah tempat yang dijanjikan Allah itu sayang
Dan inilah sosok yang mulia itu sayang
Tak ada penyesalan atas ketabahan dan kesulitan kita
Ketika kita sedang berada di dunia



Tuesday, August 19, 2014

Kemana harus mencari

Yang memberatkan hatiku adalah
ketika penyakit itu ternyata merenggutmu
Meninggalkan kami terperangah
tertunduk dan hanya terpaku

Yang selalu aku khawatirkan
adalah kemana harus mencari dirimu
ketika kelak rindu tak tertahankan
sementara dunia ini sudah tidak menjadi tempatmu

Padahal aku katakan kepada mereka
anak-anak kita
bahwa setiap jiwa
pasti akan kembali kepadNYA
setiap saat setiap detik
tidak peduli sehat ataupun sakit

Bagaimana jika
ternyata aku yang tak kuasa
menahan keresahan
yang tak tertanggungkan

Hingga berapa lama
kelak akan berjumpa
setelah berpisah di dunia
seharusnya kembali bersama

Aku resah ... sungguh resah
tapi resah tak boleh terlihat susah

Monday, August 18, 2014

Cinta pada mu


Sesungguhnya hanya cinta
Yang menjadi dasar pengabdian
Cinta tentu hanya kepada Nya
Yang menyebabkan hilangnya seluruh ketakutan

Aku selalu mengatakan
Jangan mencinta dengan berlebihan
Allah akau menguji seluruh kekuatan
Ketika Allah cemburu pada sesuatu yang berlebihan

Karena itu aku tidak katakan aku mencinta
Aku melakukan semua yang ditetapkanNya
Bahkan ketika poligami menjadi aturannNya
Aku terima dengan lapang dada

Suamiku
Jauh perjalanan kita
Aku tak pernah katakan Cinta
Karena aku tak ingin Cinta padamu melebihi cinta padaNYA
Tapi sesungguhnya Allah lebih mengetahuinya

Perlahan-lahan diujinya cinta
dengan kehadiran berbagai wanita
aku merasa telah mampu melaluinya
Tapi ketika penyakit itu mulai mendera
dirimu semakin tak berdaya
semakin lemah aku berusaha

Rasanya tak boleh ada tangisan
ketika aku mengatakan ini butuh keikhlasan
Rasanya tak boleh ada putus asa
ketika aku mengatakan ini butuh semangat baja

Tapi mengenang langkah yang kita tempuh
Mengenang seluruh dirimu secara utuh
Telah melemparkan jiwaku pada titik rapuh
Kini aku merasa duniaku perlahan-lahan runtuh

Aku telah berdusta padaNYA
Aku ternyata belum mampu mencintaiNYA
Melebihi makhluk di dunia
Sungguh aku lalai dan hina

Kupinta kepadaNYA
Jika penyakit itu mampu menghapus Dosa
Aku ikhlas menerima apapun keadaannya
Asalkan kelak kami dapat bersama
Ditempat yang mulia
Yang telah dijanjikanNYA

Saturday, November 30, 2013

Bumi Senja Kalla



Namanya BUMI Senja Kalla, 25 Desember 2012 yang lalu dokter melakukan operasi Caesar untuk menghadirkannya ke bumi Depok RS HGA.

Kami Bahagia menyambut kelahirannya


Maka kami merasa lengkap ketika dirimu hadir Bumi, semua punya banyak alasan untuk mencurahkan kasih sayang kepadamu. Doa bunda dan papi, semoga dirimu kelak menjadi pria yang Sholeh, Sabar dan menjadi pemimpin bagi orang-orang sholeh.

Jarak usia kita cukup jauh nak, tapi kami tetap bersemangat menyaksikan setiap pertambahan kecerdasanmu. Lihatlah bagaimana Abang dan Uni mencurahkan waktu dan perhatiannya kepadamu. Lihatlah papi yang selalu mengajakmu tertawa. Karena seperti halnya senyuman abang dan uni, dirimu juga dilengkapi senyuman yang mampu mencerahkan dunia.

Hanya Allah yang mampu memberikan kelengkapan dan perasaan penuh didalam hati. Bukan semata karena hadirmu, tapi kehadiran itu dilengkapi Allah dengan selengkap-lengkapnya rasa bahagia yang menyertainya.