Budhinova Family

20 Mei 2000, dua manusia bernama Budhinova Restu Nursai dan Wiendha Winstar menikah di rumbai pekanbaru. Allah kemudian menitipkan dua anak dari rahim pasangan tersebut bernama Cakrawala Jagad Semesta dan Nuansa Timur Langit. Seindah hadirnya mentari pagi, seindah teriknya siang hari, seindah rembulan yang menyinari malam kami meniti hari demi mengabdi pada Sang pemberi hidup ... hingga suatu waktu nanti ketika ALLAH memisahkan kami ...

Tuesday, August 21, 2007

Kelas 1 Abu Bakar SDIT Rahmaniyah













Sudah sebulan Abang Jag duduk di Kelas 1 Abu Bakar SDIT Rahmaniyah. Tanggal 16 Juli 2007 abang masuk tanpa diantar bunda ... Hebaaat deh. Hari kedua. ketiga dan seminggu berlalu dengan sukses. Tapi minggu setelahnya abang mogok. Setiap pagi abang nangis, katanya takut sama Umar. Susah payah bunda meyakinkan abang agar tetap berangkat ke sekolah. Pernah juga kami mengantar abang 'papi, bunda, adek lala dan mbak ela' dan itu membuat abang senang sekali. Pernah juga papi yang tungguin abang karena harus bicara dengan ibu Enno. Eh ngomong-ngomong nama ibu guru abang itu Ibu Retno (ibu Enno) dan ibu Azizah. Ibu Enno sih idealnya guru SD kelas 1, tapi bu Azizah guru muda yang belum mengerti apa yang harus dilakukan bila berhadapan dengan murid, belum lagi tidak sensitifnya.


Setiap hari pada minggu-minggu pertama setiap hari bunda harus bekal pensil baru, karena pensil abang pasti hilang berikut penghapusnya. Kalau kotak pensil udah 3 kali ganti deh. Yang bagus sekali adalah buku tulis abang, yang sedikit sekali isinya dan hampir-hampir tidak diisi sama abang ??? Katanya "aku malas nulis bun ... "
Minggu lalu bunda lupa baca jadwal mingguan, sehingga bunda salah makein baju senin, mestinya abang pakai merah putih, tapi bunda pakein baju olahraga, jadinya abang dan teman-teman lain yang seragamnya nggak benar disuruh ngumpulin sampah deeeh. Abang marah sama bunda, tapi bunda udah minta maaf ya ...

Hebat lho ... sekarang sudah satu bulan, abang sudah bisa siapkan buku sendiri. Yang paling bikin bunda bangga catatan sholat abang sudah bagus, 5 waktu ditambah sholat sunat dhuha...
Walaupun kadang-kadang lagi sholat abang suka bertingkah aneh-aneh, atau kadang-kadang sengaja sholat di depan tv, waaah itu kan salah .... nggak khusyuk deeeh

Bunda yakin tanpa terasa, waktu akan mengantarkan abang menjadi orang yang berilmu. Yakin bahwa ilmu milik ALLAH itu luas, maka perbanyaklah membaca dan menulis. ALLAH mengajarkan melalui IQRA' dan KALAM, maka surat pertama dan kedua yang diterima oleh Rasulullah adalah membaca dan menulis. Yakinlah nak, bermodalkan membaca dan menulis ananda akan bisa mengelilingi dunia milik ALLAH bahkan menembus Jagad semesta yang luas ini.

Thursday, August 09, 2007

Kepergian para sahabat


Ketika Taufik Savalas berpulang sekitar sebulan yang lalu akibat kecelakaan, dengan terharu seorang Budhinova mengabarkan pada istrinya yang sedang terlelap. Pukul 3 pagi dia berbisik .. "Bunda ... Taufik meninggal ..." sendu ... Dalam tidurnya dia masih terisak ringan, "orang baik bun, papi ingat waktu shooting kemarin, Subhanallah baiknya dia, taat pula ... dia tabrakan ... papi harus ngelayat besok bun ..."

Tidak lama kemudian dia kembali berbisik, "Bun ... Gaung dirawat lagi ... katanya kangker usus stadium 4, itu udah tinggi ya bun ...". Dua hari yang lalu di telephone, dengan suara sendu dia berbisik, "innalillahi wa innalillahi rojiuuun ... Bun ... Gaung meninggal bun ... di rumah sakit, papi langsung melayat malam ini"

"Kenapa orang-orang dekat ini yang dipanggil pada saat hampir bersamaan ya bun ... Beberapa hari lalu Gaung masih sempat mampir ke Studio Alam waktu Shooting anak semangka ..."
"Papi ingat waktu sinetron Mat Toing baru habis, bunda tanya .. gimana Mat Toing pap? ... waktu itu papi jawab ... Sudah meninggal ... waktu itu kita tertawa karena kita tau maksudnya sinetron itu sudah tidak ditayangkan lagi"

Sekarang kita tau bahwa Allah sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi. Taufik Savalas yang jadi Mat Toing dan kenangannya semasa shooting bersama papi terkubur sudah, begitu juga Agung atau Gaung yang jadi kameramennya bersama kenangan semasa shooting bersama-sama pada sinetron yang sama berangkat mendahului yang lain.
Satu per satu kita akan kembali, setiap nama pada papan iklan itu akan mempertanggungjawabkan segala hal yang telah diperbuat di dunia ...

Taufik dan Gaung adalah dua pribadi yang berbeda, amalan mereka tentu juga berbeda ... Allah tidak memilih, semua sudah tersurat dalam Lauh Mahfudz, yang dipanggil terlebih dahulu akan berangkat duluan, dan Izrail meminta agar setiap kematian diberikan alasan agar dia tidak disalahkan oleh manusia sebagai penyebab kematian itu sendiri. Allah mengabulkan permintaan Izrail, itulah yang kita sebut kecelakaan, penyakit, dsb. Mari kita jadikan setiap peristiwa sebagai pelajaran yang berharga dalam mengumpul-ngumpulkan amalan untuk menjadi bekal saat harus kembali nanti.

Tuesday, August 07, 2007

Pemutaran Perdana


Sabtu yang lalu (4 Agustus 2007) Seorang Budhinova diundang hadir di Acara pemutaran perdana film "Tjinta Fatma" yang di sutradari-nya setahun yang lalu, tadinya film itu akan diputar Agustus 2006, tapi nggak jadi, ditunda karena harus di edit dan ditambahin dokumenter.

Jadilah kami semua berangkat, Papi, Bunda, Jagad, Langit, mbak Ella dan mbak Elli, didahului ke dokter Alergie, lalu main bowling ... abang marah-marah nih, bolanya berat banget jadi nggak pernah kena pin-nya. Cape main bowling baru deh kita ke Usmar Ismail ...

Kirain acaranya nggak resmi, karena kami semua pakai kaos, ternyata ... mobil-mobil mewah itu menurunkan keluarga besar Soekarno dengan pakaian resmi bo ... Maluuuu banget, waktu salaman sama Megawati dan Sukmawati, aduuuh kesannya nggak menghargai keluarga mereka. Belum undangan lainnya ...

Papi, Bunda dan Jagad ngibrit masuk ruang pertunjukan, daripada kelamaan dibawah tempat orang-orang bertemu, terang banget. Waktu duduk sambil menunggu acara dimulai bunda deg degan ... ternyata papi lebih cemas lagi
"pap .. bunda deg degan ..."
"aku juga ..." kata abang "aku takut lampunya mati... " he he he ... dasar si abang, orang cemas karena takut garapan papi mengecewakan dia takut lampunya mati ..
"pap ... jangan khawatir ... semoga film-nya bagus ya ... pasti bagus deh ... dari foto2nya bagus nih .. "
"wah ... kayaknya film-nya asiiik nih" malah abang yang ikut-ikutan, sementara papinya masih menggigit bibir

Film diputar dan ditengah-tengah pemutaran ada saja suara gaduh yang tertawa melihat ke-playboy-an Soekarno. Satu setengah jam, Jagad heboh dengan snack, lapar ... Film selesai, penonton bertepuk tangan papi mendesah ... sepertinya terharu

Inilah kali pertama film-nya diputar di layar lebar, sebelumnya karya-karyanya berbentuk sinetron dan diputar di televisi. Tentu saja setiap sutradara ingin sekali membuat film layar lebar. Dan "Tjinta Fatma" ini adalah film televisi yang diputar di layar lebar

Semoga sukses papi ... belajarlah dari Chaerul Umam ... menjadi sutradara harus membawa misi agama di dalam pekerjaan. Berorientasilah agar hasil karya menjadi media dakwah kepada ALLAH, agar kelak, ketika tiba waktunya ALLAH bertanya, maka pekerjaan kita bisa dipertanggungjawabkan.