Budhinova Family

20 Mei 2000, dua manusia bernama Budhinova Restu Nursai dan Wiendha Winstar menikah di rumbai pekanbaru. Allah kemudian menitipkan dua anak dari rahim pasangan tersebut bernama Cakrawala Jagad Semesta dan Nuansa Timur Langit. Seindah hadirnya mentari pagi, seindah teriknya siang hari, seindah rembulan yang menyinari malam kami meniti hari demi mengabdi pada Sang pemberi hidup ... hingga suatu waktu nanti ketika ALLAH memisahkan kami ...

Tuesday, August 07, 2007

Pemutaran Perdana


Sabtu yang lalu (4 Agustus 2007) Seorang Budhinova diundang hadir di Acara pemutaran perdana film "Tjinta Fatma" yang di sutradari-nya setahun yang lalu, tadinya film itu akan diputar Agustus 2006, tapi nggak jadi, ditunda karena harus di edit dan ditambahin dokumenter.

Jadilah kami semua berangkat, Papi, Bunda, Jagad, Langit, mbak Ella dan mbak Elli, didahului ke dokter Alergie, lalu main bowling ... abang marah-marah nih, bolanya berat banget jadi nggak pernah kena pin-nya. Cape main bowling baru deh kita ke Usmar Ismail ...

Kirain acaranya nggak resmi, karena kami semua pakai kaos, ternyata ... mobil-mobil mewah itu menurunkan keluarga besar Soekarno dengan pakaian resmi bo ... Maluuuu banget, waktu salaman sama Megawati dan Sukmawati, aduuuh kesannya nggak menghargai keluarga mereka. Belum undangan lainnya ...

Papi, Bunda dan Jagad ngibrit masuk ruang pertunjukan, daripada kelamaan dibawah tempat orang-orang bertemu, terang banget. Waktu duduk sambil menunggu acara dimulai bunda deg degan ... ternyata papi lebih cemas lagi
"pap .. bunda deg degan ..."
"aku juga ..." kata abang "aku takut lampunya mati... " he he he ... dasar si abang, orang cemas karena takut garapan papi mengecewakan dia takut lampunya mati ..
"pap ... jangan khawatir ... semoga film-nya bagus ya ... pasti bagus deh ... dari foto2nya bagus nih .. "
"wah ... kayaknya film-nya asiiik nih" malah abang yang ikut-ikutan, sementara papinya masih menggigit bibir

Film diputar dan ditengah-tengah pemutaran ada saja suara gaduh yang tertawa melihat ke-playboy-an Soekarno. Satu setengah jam, Jagad heboh dengan snack, lapar ... Film selesai, penonton bertepuk tangan papi mendesah ... sepertinya terharu

Inilah kali pertama film-nya diputar di layar lebar, sebelumnya karya-karyanya berbentuk sinetron dan diputar di televisi. Tentu saja setiap sutradara ingin sekali membuat film layar lebar. Dan "Tjinta Fatma" ini adalah film televisi yang diputar di layar lebar

Semoga sukses papi ... belajarlah dari Chaerul Umam ... menjadi sutradara harus membawa misi agama di dalam pekerjaan. Berorientasilah agar hasil karya menjadi media dakwah kepada ALLAH, agar kelak, ketika tiba waktunya ALLAH bertanya, maka pekerjaan kita bisa dipertanggungjawabkan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home